Ayo! Berbalas pantun Ratna,s.Pd.SD.
KELAS
BELAJAR MENULIS NUSANTARA PGRI KE-28 Pertemuan Ke :
13
Tema :
Kaidah pantun
Narasumber :
Miftahul Hadi,S.Pd.
Moderator :
Dail Ma,ruf, M, Pd.
Assalaamu
Alaikum Warahmatullaahi Wabarokaatuh.Kita blajar bersama membuat pantun bersama
narasumber Miftahul Hadi,S.Pd.
Pantun
diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi
ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible
Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020)
Pada
hakikatnya, sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia membentuk pondasi
dasar pertunjukan genre campuran yang kompleks, seperti "randai" dari
Minangkabau wilayah Sumatra Barat, yang mencampur antara seni musik, seni
tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang
spektakuler.
Dari
berbagai macam pantun dari tiap daerah, berikut terdapat definisi pantun.
Pantun
menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja,
2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun”
yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah
dan peribahasa (Hussain, 2019)
Pantun
berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata
Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh
masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika
(Mu’jizah, 2019)
Kegunaan
pantun itu ternyata banyak sekali. Selain untuk komunikasi sehari-hari pada
zaman dahulu. Pantun bisa juga digunakan untuk mengawali sambutan pidato. Bisa
juga untuk lirik lagu, perkenalan, ataupun dakwah bisa juga disisipi pantun.
Selain itu
Pantun juga melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar Mari bapak ibu, kita kupas satu
persatu tentang pantun. Satu bait pantun terdiri atas empat baris. Lalu,
satu baris itu idealnya terdiri atas empat sampai lima kata. Kemudian,
satu baris pantun terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata. Tiap baris terdiri
dari Delapan sampai dua belas suku kata. Baris pertama dan kedua disebut sampiran
Baris ketiga dan
keempat disebut isi
Persajakan. Pantun yang baik, memiliki sajak a-b-a-b
Pantun dua
baris disebut juga karmina atau pantun kilat.
Contoh
pantun kilat.
Sudah
gaharu cendana pula.
Sudah ku rindu merana juga.
Cara menentukan
persajakan, bisa kita lihat Rima (bunyi akhir) tiap baris
Sudah
gaharu Cendana pula,
Sudah tahu bertanya pula.
Syair,
hampir sama seperti pantun.
Terdiri atas empat baris.
Memiliki sajak a-a-a-a. Baris satu sampai empat memiliki hubungan/saling
berkaitan.
Nah, kalau
gurindam hanya terdiri atas dua baris. Memiliki sajak a-a. Baris pertama dan
kedua saling berhubungan.
Contoh
gurindam : Jika rajin salat sedekah,
Allah
akan tambahkan berkah
Karmina,
terdiri atas dua baris. Baris pertama dan kedua tidak ada hubungannya. Itulah sekilas perbedaan
pantun, syair, gurindam dan karmina.
Membuat pantun
itu mudah, sangaaatt mudah. kalau tuan pandai menakar .
pergilah ke batu
jajar Kalau tuan giat belajar tuan
akan segera mendapat gelar
Carilah
kata yang memiliki bunyi akhir sama. Minimal dua huruf bapak ibu. Ini trik pertama. Trik selanjutnya, pahami ciri-ciri pantun yang sudah dijelaskan di
atas. Jika membuat pantun, susunlah baris ketiga dan keempat terlebih dahulu.
Lalu
terkait persajakan dan Rima dalam pantun Rima akhir.
Contoh:
Pohon nangka dililit
benalu,
Benalu runtuhkan batu bata, Mari kita waspada selalu, Virus corona di sekitar kita
Hanya akhir baris
yang sama bunyinya.
Kemudian
yang kedua.Rima tengah dan akhir Susun sejajar bungalah bakung,
Terbang menepi si
burung elang, Merdeka belajar marilah dukung,
Wujud
mimpi Indonesia cemerlang.
Baris pertama
dan ketiga Seja jar dan ba kung Bela
jar dan Du kung
Baris
kedua dan keempat
Mene Pi dan e Lang Mim
Pi dan cemer lang
Ini
tingkatan yang mudah, jika dilatih terus menerus
Rima awal,
tengah dan akhir Jangan
dipetik si daun sirih, Jika tidak dengan gagangnya,
Jangan
diusik orang berkasih, Jika tidak dengan sayangnya.
Rima awal,
tengah dan akhir.
Baris pertama dan keti
Ja ngan dipe tik
si daun sirih,
Ja ngan diu Sik orang berka sih,
Baris
kedua dan keempat Ji
ka ti dak dengan gagang nya, Ju ka ti dak dengan sayang nya.
Rima lengkap Bagai patah tak tumbuh lagi,
Rebah sudah selasih di
taman, Bagai sudah tak suluh lagi,
Patah sudah
kasih idaman.
Dalam
menulis pantun, usahakan hindari penggunaan nama orang, dan nama merk dagang.
Selanjutnya
tugas dari narasumber untuk membuat pantun dengan kata Merdeka Belajar
Indahlah
taman bunga petikan. Uduk talikan si bunga mekar. Inilah pesan bapak pendidikan. Untuk wujudkan merdeka belajar
Semoga bermanfaat untuk kita semua dalam kehidupan sehari
hari.
#Ayo menulis # #
Tulisan adalah warisan #
#
Tulisan adalah jejak #
Komentar
Posting Komentar